KABAR REPUBLIK, BULUNGAN — Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) digelar pada Jumat pagi (05/12/2025) di Rumah Jabatan Bupati Bulungan dengan mengangkat tema “Stop Kekerasan, Upaya Perempuan Melintasi Batas untuk Demokrasi”.
Tema tersebut diangkat sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap isu kekerasan terhadap perempuan, yang disampaikan melalui pesan serta cerita reflektif mengenai berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, maupun berbasis digital.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi mengenai perlindungan perempuan di era digital. Sesi ini mendapat perhatian besar dari peserta, khususnya kalangan muda, karena topik yang dibahas dinilai dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama terkait perundungan dan pelecehan di media sosial.
Dalam diskusi tersebut juga dibahas pentingnya mengenali berbagai bentuk tindakan yang merugikan perempuan serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.
Sejumlah komunitas perempuan turut memamerkan karya kampanye sebagai media edukasi anti kekerasan. Karya yang ditampilkan antara lain poster buatan tangan, ilustrasi, tulisan singkat, hingga video pendek yang memuat pesan penolakan terhadap kekerasan.
Para peserta tampak antusias mengamati serta mendiskusikan pesan yang terkandung dalam setiap karya yang dipamerkan.
Menjelang penutupan kegiatan, para peserta melakukan aksi simbolik dengan mengangkat tangan secara bersama-sama sebagai bentuk penolakan terhadap segala bentuk kekerasan. Aksi tersebut sekaligus menegaskan komitmen untuk mendorong terciptanya lingkungan yang lebih aman dan ramah bagi perempuan.
Ketua TP PKK Kabupaten Bulungan, Sri Nurhandayani Syarwani, S.Pd, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan pentingnya dukungan nyata bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan.
Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam keluarga, masyarakat, hingga pemerintahan, sehingga lingkungan yang aman menjadi syarat utama agar peran tersebut dapat dijalankan secara optimal.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak bersikap diam apabila mengetahui adanya tindak kekerasan terhadap perempuan, serta mendorong keberanian untuk melaporkan dan memberikan perlindungan kepada korban.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa upaya pencegahan kekerasan harus dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk dari keluarga, melalui cara berkomunikasi, mendidik anak, serta memperlakukan perempuan dengan penuh rasa hormat.
Menurutnya, apabila perempuan merasa aman dan terlindungi, maka masyarakat secara keseluruhan akan tumbuh menjadi lebih maju dan berkeadaban. (RT)




