WASHINGTON D.C. – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) dilaporkan mulai merilis jutaan dokumen tambahan terkait penyelidikan kasus perdagangan seks mendalam yang melibatkan mendiang Jeffrey Epstein. Namun, rilis dokumen ini justru menuai kritik tajam karena dianggap tidak memberikan dampak hukum bagi tokoh-tokoh besar yang terlibat, termasuk Presiden Donald Trump.
Dalam program The Daily Show, komedian dan komentator politik Jon Stewart menyoroti bagaimana dokumen-dokumen tersebut seolah menjadi “Groundhog Day”—sebuah pengulangan di mana publik melihat nama-nama besar muncul, namun tidak ada tindakan hukum nyata yang menyusul.
Intervensi Hukum dan Nama-Nama Besar Stewart secara khusus mengkritik peran Departemen Kehakiman yang saat ini berada di bawah pengaruh sekutu-sekutu Trump. Ia menyebut bahwa pengacara Trump kini memiliki kendali atas proses peninjauan dokumen yang mungkin bisa menyudutkan sang presiden.
“Review ini sudah selesai,” ujar Stewart menyindir sikap DOJ yang seolah-olah menyatakan bahwa tidak ada hal baru yang bisa dituntut secara hukum, meskipun nama Trump muncul ribuan kali dalam berkas tersebut sebagai latar belakang hubungan jangka panjang dengan Epstein.
Selain Trump, dokumen tersebut juga menyebutkan deretan tokoh elit dari berbagai latar belakang, mulai dari Bill Clinton, Bill Gates, hingga Elon Musk. Dalam salah satu fragmen dokumen, terungkap email dari Elon Musk kepada Epstein yang menanyakan tentang rencana pesta di pulau pribadi Epstein pada hari Natal.
Kritik “Sistem Dua Tingkat” Naskah berita ini juga menyoroti ironi politik yang dibawa oleh kubu MAGA. Stewart membandingkan bagaimana pemerintah saat ini sangat keras terhadap imigran di “kota perlindungan” (sanctuary cities) dengan alasan penegakan hukum, namun di sisi lain menciptakan “kota perlindungan” bagi orang kaya dan berkuasa.
“Kota perlindungan yang sebenarnya adalah tempat di mana uang dan kekuasaan melindungi Anda dari konsekuensi perdagangan seks atau perdagangan pengaruh,” tegas Stewart dalam monolognya.
Pernyataan Trump Menanggapi rilis dokumen tersebut, Donald Trump mengklaim dirinya tidak bersalah dan menyatakan bahwa dokumen tersebut justru membebaskannya dari segala tuduhan. Ia menyebut upaya pengungkapan ini sebagai serangan dari “kelompok kiri radikal” yang ingin menjatuhkannya.
Hingga saat ini, meskipun jutaan dokumen telah dirilis, para pengamat hukum mencatat bahwa hampir tidak ada tersangka baru yang diproses setelah kematian Epstein dan hukuman Ghislaine Maxwell. Hal ini memperkuat persepsi publik tentang adanya ketimpangan hukum bagi kelompok elit di Amerika Serikat.




