Tuesday, September 1, 2026

Tiba-Tiba IHS Berstatus DPO, Kuasa Hukum Soroti Dugaan Framing dan Serangan Reputasi Pasca 21 Bulan Vakum

- Advertisement -https://kabarrepubliknews.com/wp-content/uploads/2026/08/HENDRIK-SELAMAT-DAN-SUKSESkabar-republik.jpg

JAKARTA – Kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) senilai Rp30 miliar yang menyeret nama Indah Harini (IHS) kembali menjadi sorotan publik. Perkara dengan Nomor: 476/Pid.B/2023/PN.Jkt.Pst tersebut sebelumnya telah berakhir dengan putusan bebas (vrijspraak) oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 6 November 2023 silam.

Situasi berubah ketika pada Rabu (15/4/2026), Tim Tangkap Buronan (Tabur) Bidang Intelijen Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta mendatangi kediaman saudara dari Indah Harini di kawasan Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, sekitar pukul 14.30 WIB, dan melakukan penjemputan.

Langkah tersebut langsung memicu reaksi dari pihak keluarga maupun tim Penasehat Hukum (PH). Prof. Dr. H. Alex Chandra, SH, SE, M.Hum, menyampaikan kekecewaannya atas proses yang dinilai tidak transparan. Menurutnya, ia sulit mendapat akses komunikasi saat kliennya mencoba menghubungi melalui handphone ketika penangkapan berlangsung.

Peristiwa ini dengan cepat menyebar luas di media sosial dan menjadi sorotan berbagai media. Namun, PH menilai hal ini ada potensi pembentukan opini publik yang merugikan.

“Ini luar biasa, framing media dan media sosial kejaksaan yang berbahaya banget buat kepentingan bu Indah Harini ya, sehingga masalah ini menurut saya sangat serius. Dari pihak pemerintah, pemberitaan yang masif, disebut “Buronan atau DPO”, padahal alamat dan HP klien kami tetap, ya ini sama dengan pembunuhan karakter kalau menurut kami”, tegas Prof.Alex.

Prof. Alex juga menyoroti jeda waktu antara putusan Mahkamah Agung dan pelaksanaan eksekusi yang dianggap tidak wajar.

“Faktanya, Putusan Mahkamah Agung 8 Juli 2024, kemudian eksekusi baru dilaksanakan Rabu kemarin (15/04/2026), ada 21 bulan mengambang tanpa kejelasan, sementara alamat bu Indah Harini tetap, HP aktif tidak pernah pindah,” tegas Prof. Alex.

Pihaknya juga mempertanyakan dasar penetapan status Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap kliennya. Menurutnya, ketentuan hukum menyebutkan bahwa DPO berlaku bagi individu yang tidak diketahui keberadaannya.

“Kalau alamat jelas dan HP aktif, tapi Jaksa Penuntut Umum (JPU) diam 21 bulan, baru teriak “DPO” pas eksekusi ini, ada dua kemungkinan menurut kacamata kami, yakni: satu, mal administrasi JPU, artinya tidak pernah panggil secara patut 21 bulan, tetapi tiba-tiba terbit “DPO” buat pembenaran penundaan. Dua, trial by the press, Kejaksaan cuci tangan ke media sebagai “dia buron, makanya telat dieksekusi”. Padahal yang telat JPU-nya,” ucapnya tegas.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa prosedur pemanggilan harus dilakukan sesuai aturan sebelum penetapan DPO, sebagaimana diatur dalam KUHAP.

“Kalau 21 bulan tidak ada relas panggilan, DPO-nya batal demi hukum. Eksekusi pakai “DPO”, tapi “DPO”nya cacat, sama dengan idem ini ya, ganti rugi pasal 95 KUHAP”, tambahnya.

Narasi yang menyebut adanya “Gerak Cepat dari Tim Tangkap Buronan”, juga dinilai tidak sesuai dengan fakta waktu yang terjadi.

“Ya gerak cepat, setelah didiamkan 21 bulan lahh. Ini logikanya terbalik, justru ini bukti kelalaian, dampak buat bu Indah Harini klien kami, yakni: stigma sosial, keluarga, anak, relasi bisnis. (baca berita: “Buronan TPPU 43 miliar”).

Konsekuensinya nama baik hancur, padahal dia korban, sistem error Bank BRI. Dan ini juga mempersulit upaya kami dalam rangka mempersiapkan upaya hukum peninjauan kembali, Hakim PK”, imbuhnya.

Pihak PH juga menilai bahwa pelabelan “buronan” dalam pemberitaan dapat menggiring opini publik seolah-olah kliennya telah bersalah, meskipun fakta hukum yang ada dinilai tidak demikian.
Selain itu, munculnya unsur “penggelapan” dalam pemberitaan turut dipersoalkan.

Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 3950 K/Pidsus/2024, unsur tersebut mensyaratkan adanya penguasaan barang karena jabatan. Namun dalam kasus ini, pihak PH menyatakan dana yang masuk ke rekening kliennya terjadi akibat kesalahan sistem perbankan, bukan karena posisi atau jabatan tertentu.

“Faktanya uang masuk sendiri karena error Bank BRI (fraud system) dan bukan karena jabatan Indah Harini, mengingat dia adalah nasabah, bukan pegawai Bank BRI. Sehingga isi dakwaan dinilai salah kamar,” demikian ditegaskan Prof.Alex.

Sebagai tindak lanjut, tim Penasehat Hukum memastikan akan segera menempuh langkah hukum lanjutan dalam waktu dekat, sebagai respons atas apa yang mereka nilai sebagai framing yang merugikan klien.
Kasus ini kembali memicu perdebatan di ruang publik, terkait apakah proses penegakan hukum telah berjalan sesuai prosedur, atau justru opini telah lebih dulu terbentuk sebelum kebenaran diuji di persidangan. (*)

Trending Sepekan

Gubernur Zainal Minta Pokir DPRD Diperkuat sebagai Instrumen Pembangunan

TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara menegaskan bahwa...

Sucofindo Tarakan, Melaksanakan Buka Puasa Ramadan 1447 Hijriah Bersama Karyawan dan Keluarga.

"KABAR REPUBLIK, Tarakan" - PT. Sucofindo (Persero) Cabang Tarakan...

Lagi Malas saat diajak Bukber, 5 Alasan Menolak Ajakan Bukber Teman.

Tarakan, Kabar Republik -- Musim Ramadan identik dengan agenda...

Bulan K3 Nasional, Wagub Ingkong Soroti Pentingnya Keselamatan Kerja

TANJUNG SELOR – Wakil Gubernur Kalimantan Utara Ingkong Ala,...

22 Perkara Pidana Ditangani Polres Tarakan, Curanmor Jadi Perhatian

TARAKAN – Polres Tarakan mencatat sebanyak 22 perkara tindak...

Kabar For You

Gubernur Kaltara Dukung Investasi Pabrik Minyak Goreng, Target Operasi 2027

TANJUNG SELOR – Gubernur Kalimantan Utara Dr. H. Zainal...

Stok Beras Bulog 2026 Di Tanjung Selor Masih Terpantau Aman

KABAR REPUBLIK, BULUNGAN — Hingga saat ini, ketersediaan stok...

Dorong Penguatan Tata Kelola, Sekprov Kaltara Apresiasi Kinerja ASN

Kabar Republik, TANJUNG SELOR – Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan...

Ketua Umum ICCN Fiki Satari Dilantik sebagai Direktur Utama LPP TVRI Periode 2026–2028

Jakarta – Tubagus Fiki Chikara Satari, Ketua Umum Indonesian...

Pemerintah Provinsi Kaltara Gelar Edukasi OPD Soal Keamanan Siber dan Data, Perkuat Transformasi Digital

Kabar Republik, BULUNGAN - Demi memperkuat fondasi transformasi digital,...

Kesempatan Emas Bagi Komunitas Seni! Open Submission Festival Kreatif ICCN 2026

Jakarta, 19 Mei 2026 — Indonesia Creative Cities Network...

Atap Seng Bekarat, Prabowo Cetuskan Proyek Gentengisasi

Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengusulkan gerakan nasional mengganti...
spot_imgspot_imgspot_img

Related Articles

21.3k Followers
Follow

Popular Categories

spot_imgspot_img